pramunikmat putih abu-abu


Jam menunjukkan angka 20.35 WIB.
Senin (8/11), malam, pria kurus berjaket hitam duduk tenang di salah satu kursi, di sebuah kafe di Solo. Kursi itu sudah dipesan sebelumnya, untuk meladeni wawancara Joglosemar soal fenomena yang menghebohkan di Kota Solo beberapa pekan ini, yakni perilaku seks bebas yang dijalani siswi-siswi SMA.
Fenomena ini cukup memprihatinkan, karena alasan anak berseragam putih abu-abu menjalani free sex, bukan lagi berorientasi pada ekonomi. Namun gejala miring ini justru menjadi gaya hidup masa kini.
Umurnya sudah 52 tahun. Namanya diminta dirahasiakan, ia hanya mau ditulis dengan inisial KM. Domisilinya sebenarnya di Kota Jogja, namun sebagian besar waktunya ia habiskan di Kota Solo, dengan usaha properti yang terkenal di Kota Bengawan ini. Meski sudah tua, namanya cukup populer sebagai ”penikmat” seks anak baru gede (ABG) berseragam putih abu-abu di Kota Solo. ”Kami menyebut mereka (siswi SMA,-red) dengan sebutan Pinky,” katanya sembari membenarkan kacamatanya.
Praktik prostitusi yang dijalani siswi SMA di Solo, katanya tidak jelas kapan awal mulanya. ”Tidak terputus, setiap generasi ada Pinky-nya. Tidak banyak dan hanya beberapa SMA saja. Itu bukan rahasia lagi,” ujarnya.
Menggunakan jasa ”pramunikmat” putih abu-abu bagi KM bukan tanpa alasan. Citra sebagai pengusaha terkenal menjadi pertimbangannya. ”Saya anti ke penampungan. Selain khawatir kena razia, jaminan kesehatannya pun meragukan,” ucapnya.
Alasan lain, bapak tiga anak ini lebih memilih berburu para penjaja cinta dari kalangan oknum pelajar SMA yang sebaya dengan anaknya, karena permintaan para pelajar itu tidak neko-neko. ”Kalau yang di penampungan itu sudah profesional. Banyak mintanya tapi sedikit memberinya. Beda dengan Pinky, mereka lebih nurut dan fresh. Kalau saya lebih suka yang di Solo,” akunya.
Untuk ”memakai” oknum berseragam putih abu-abu ini, berbeda dengan prostitusi profesional yang mengandalkan jasa germo atau mucikari.”Kami biasa dibantu seorang informan. Mereka (informan,-red) ini bukan germo, karena tidak memanfaatkan langsung keringat para Pinky. Lebih tepatnya hanya orang yang memberikan info saja,” terangnya. ”Informan ini, bukan profesional di bidang prostitusi, mereka ini juga dari kalangan pelajar.”
Untuk mendapatkan Pinky, KM cukup nongkrong di kafe, mal, dan swalayan. Cukup dengan bahasa tubuh tertentu, sang informan biasa langsung mendekatinya. Sedikit ngobrol, minum utak-atik nomor ponsel, dan beberapa saat sang Pinky menyusul. ”Lebih nyaman gini, nggak khawatir petak umpet sama aparat keamanan. Setiap tongkrongan gaul, ada Pinky-nya. Asal sekolah sih tidak penting,” jelasnya, yang enggan membeberkan asal sekolah para Pinky itu.
Kalangan Elite
Saking lamanya menyelami dunia para Pinky ini, KM tahu betul tipe-tipe Pinky. Katanya, tipe Pinky di Kota Solo ada dua macam. Pinky pop untuk short time atau melayani singkat dan Pinky klasik untuk long time (pelayanan yang lama). ”Pinky klasik cenderung lebih mahal daripada Pinky pop. Karena dibutuhkan kesabaran, dan biaya ekstra untuk bisa mendapatkannya,” katanya.
”Kalau Pinky pop tarif sekitar Rp 150.000 hingga Rp 300.000 per jamnya. Tergantung kualitasnya juga. Kalau Pinky klasik tak terbatas, umumnya dipakai untuk semi simpanan, tapi tanpa ikatan pernikahan.”
Gaya hidup para Pinky klasik memang elite. Tak jarang para ”pemakainya” rela membelikan mobil, dan sewa rumah untuk memuaskan mereka. ”Yang paling sederhana, yang ngetren saat ini, dikasih BlackBerry,” kata KM.
KM mengaku lebih sering ”memakai” jasa Pinky pop yang risikonya lebih kecil. Dari pengakuannya pula, para pengusaha di Solo dan Jogja yang jadi relasinya banyak yang menggunakan jasa Pinky klasik. ”Bedanya lebih ke orientasinya. Pinky pop orientasinya ke uang. Sedangkan Pinky klasik orientasinya sudah mengarah ke gaya hidup. Mereka rata-rata justru dari kalangan orang mampu, motivasinya cenderung ke gengsi dan kurang perhatian dari keluarganya.”
Selain para pengusaha, ”penikmat” Pinky klasik ini juga dari kalangan pejabat dari berbagai kota. Bisa kenal dan dekat dengan pengusaha serta pejabat terkenal inilah yang menjadi kebangaan bagi para Pinky klasik untuk rela menjadi wanita simpanan. ”Jika Anda lihat di situs jejaring sosial, seperti Facebook, Twitter dan yang lain, kadang ada foto mesra pelajar SMA dengan oknum pejabat dan pengusaha. Itu memang fakta, jadi ajang gengsi,” bebernya.
Cara pendekatan terhadap Pinky, menurut KM gampang-gampang susah. Berbekal informasi dari informan, KM dan para ”pemakai” Pinky berpura-pura menjadi tempat curhat yang nyaman, saat para Pinky dirundung masalah tertentu. ”Yang paling sering masalah keluarga. Ya, kita pura-pura sok kebapakan sajalah. Kita puji mereka, kita sanjung, kita kasih motivasi. Pintar-pintar saja cari celah,” tandasnya.
Lewat KM inilah, Joglosemar mengorek lebih lanjut fenomena prostitusi putih abu-abu yang sudah menjadi gaya hidup. Dialah yang mengenalkan seorang informan yang pernah menjadi jasa mengenalkan para Pinky di Solo.
Secarik kertas berisi alamat dan nomor ponsel berinisial RK. Informan ini dihubungi untuk wawanacara. Awalnya menolak, dengan alasan privasi. Namun, setelah dijelaskan dampak dari fenomena ini bisa menjadi pelajaran bagi masyarakat luas, ia pun menyanggupi untuk wawancara.
Selasa (9/11) RK ditemui di rumahnya, di salah satu perumahan di Solo. Berkaus putih, berperawakan bersih dan tinggi, RK membukakan pintu rumahnya. Dia baru dua tahun lalu lulus SMA di Solo. Saat ini, ia kuliah di salah satu perguruan tinggi di Solo. Ia pun blakblakan mengungkapkan jaringan prostitusi siswi berseragam putih abu-abu memang tertutup dan rapi. ”Dari luar, tahunya wanita baik-baik. Bahkan tak jarang berstatus terhormat, karena berasal dari keluarga mapan dan terpelajar,” ujarnya.
Langganan Pejabat
Meski baru saja berhenti menjadi jasa pemberi informasi para Pinky pada pengusaha dan pejabat, RK mengaku tidak susah untuk mencarikan para Pinky. Dengan modal kepercayaan, tak jarang Pinky sukarela menyerahkan diri tanpa paksaan. ”Awalnya curhat saja, lalu berlanjut makan di luar. Ketika makan itulah, biasanya kita kenalkan dengan om om yang butuh. Kalau untuk Pinky pop bisa langsung dipakai, tapi untuk Pinky klasik, ya butuh pendekatan lanjut,” terang mahasiswa berambut ikal ini.
Menurutnya, para Pinky yang dekat dengannya, tidak satu almamater dengannya. Selain lebih leluasa, rahasia juga lebih terjaga. Ia menolak disebut germo, karena tidak memaksa para Pinky untuk setor penghasilan sebagai imbal jasa informasinya. ”Biasanya ya ngasih gitu aja, nggak ada patokan tertentu,” akunya.
Para ”pemakai” Pinky pop, kata RK, biasanya memuaskan hasratnya di hotel. ”Kalau Pinky klasik kan sudah disewakan rumah, bahkan dibelikan, jadi ya mainnya di rumah itu,” terangnya.
”Biasanya ketika sudah cocok, om om ini susah lepasnya. Tapi sebenarnya mereka itu juga takut jika ketahuan keluarga atau rekan kerjanya. Khawatir rahasianya terbongkar, mereka lalu memberi imbalan ke saya. Istilahnya uang tutup mulut. Prinsipnya mutualisme saja sih,” katanya.
Sosiolog UNS, RB. Sumanto berpendapat, akar permasalahan prostisusi para oknum pelajar SMA yang sudah mengarah menjadi gaya hidup adalah dari lembaga sosial primer yakni keluarga. Gejala ini, rentan terjadi pada keluarga yang bersifat otoriter dan overegaliter. ”Terlalu mengekang, mendominasi atau terlalu membebaskan dalam mendidik anak tanpa dilandasi penjelasan rasional dan keteladanan,” kata Sumanto.
Menurutnya, pemberontakan anak terhadap norma sosial dalam menghadapi arus globalisasi lebih disebabkan ketidaksiapan orangtua. ”Ada semacam kesalahan penafsiran modernisasi, ditambah pengabaian ajaran agama. Dampaknya penyimpangan seperti itu,” ujarnya.
”Ini biasa terjadi pada pasangan orangtua yang sama-sama sibuk bekerja, sehingga pola komunikasi keluarga menjadi macet dan tidak harmonis. Di situlah anak akan mencari kompensasi di luar, sehingga rentan terjerat tipu daya para oknum yang tidak bertanggung jawab.”
Ia menolak, jika kesalahan dilimpahkan pada pelajar yang menyandang sebutan Pinky itu.”Jangan sampai anak kehilangan sosok panutan. Curahkan kasih sayang maksimal dengan sikap bijak dan keteladanan nyata, tapi jangan manjakan mereka,” sarannya. (***)